Sejarah Bangkalan dari Pra Islam Hingga Cakraningrat

Madura Barat (Bangkalan) Masa Hindu dan Budha

 

Dari Plakaran Ke Arosbaya, Pragalba ke Pratanu (Lemah Dhuwur)
Cakraningrat I Anak Angkat Sultan Agung

Bangkalan dulunya lebih dikenal dengan sebutan Madura barat. Penyebutan ini, mungkin lebih ditekankan pada alasan geografis. Soalnya, Kabupaten Bangkalan memang terletak di ujung barat Pulau Madura. Dan, sejak dulu, Pulau Madura memang sudah terbagi-bagi. Bahkan, tiap bagian memiliki sejarah dan legenda sendiri-sendiri. Berikut laporan wartawan Radar Madura di Bangkalan, Risang Bima Wijaya secara bersambung.

Menurut legenda, sejarah Madura barat bermula dari munculnya seorang raja dari Gili Mandangin (sebuah pulau kecil di selat Madura) atau lebih tepatnya di daerah Sampang. Nama raja tersebut adalah Lembu Peteng, yang masih merupakan putra Majapahit hasil perkawinan dengan putri Islam asal Campa. Lembu Peteng juga seorang santri Sunan Ampel. Dan, Lembu Peteng-lah yang dikenal sebagai penguasa Islam pertama di Madura Barat.

Namun dalam perkembangan sejarahnya, ternyata diketahui bahwa sebelum Islam, Madura pernah diperintah oleh penguasa non muslim, yang merupakan yang berasal dari kerajaan Singasari dan Majapahit. Hal ini diperkuat dengan adanya pernyataan Tome Pires (1944 : 227) yang mengatakan, pada permulaan dasawarsa abad 16, raja Madura belum masuk Islam. Dan dia adalah seorang bangsawan mantu Gusti Pate dari Majapahit.

Pernyataan itu diperkuat dengan adanya temuan – temuan arkeologis, baik yang bernafaskan Hindu dan Bhudda. Temuan tersebut ditemukan di Desa Kemoning, berupa sebuah lingga yang memuat inskripsi. Sayangnya, tidak semua baris kalimat dapat terbaca. Dari tujuh baris yang terdapat di lingga tersebut, pada baris pertama tertulis, I Caka 1301 (1379 M), dan baris terakhir tertulis, Cadra Sengala Lombo, Nagara Gata Bhuwana Agong (Nagara: 1, Gata: 5, Bhuwana: 1, Agong: 1) bila dibaca dari belakang, dapat diangkakan menjadi 1151 Caka 1229 M.

Temuan lainnya berupa fragmen bangunan kuno, yang merupakan situs candi. Oleh masyarakat setempat dianggap reruntuhan kerajaan kecil. Juga ditemukan reruntuhan gua yang dikenal masyarakat dengan nama Somor Dhaksan, lengkap dengan candhra sengkala memet bergambar dua ekor kuda mengapit raksasa.

Berangkat dari berbagai temuan itulah, diperoleh gambaran bahwa antara tahun 1105 M sampai 1379 M atau setidaknya masa periode Singasari dan Majapahit akhir, terdapat adanya pengaruh Hindu dan Bhudda di Madura barat.

Sementara temuan arkeologis yang menyatakan masa klasik Bangkalan, ditemukan di Desa Patengteng, Kecamatan Modung, berupa sebuah arca Siwa dan sebuah arca laki-laki. Sedang di Desa Dlamba Daja dan Desa Rongderin, Kecamatan Tanah Merah, terdapat beberapa arca, di antaranya adalah arca Dhayani Budha.

Temuan lainnya berupa dua buah arca ditemukan di Desa Sukolilo Barat Kecamatan Labang. Dua buah arca Siwa lainnya ditemukan di pusat kota Bangkalan. Sementara di Desa Tanjung Anyar Bangkalan ditemukan bekas Gapura, pintu masuk kraton kuno yang berbahan bata merah.

Di samping itu, berbagai temuan yang berbau Siwais juga ditemukan di makam-makam raja Islam yang terdapat di Kecamatan Arosbaya. Arosbaya ini pernah menjadi pusat pemerintahan di Bangkalan. Misalnya pada makam Oggo Kusumo, Syarif Abdurrachman atau Musyarif (Syech Husen). Pada jarak sekitar 200 meter dari makam tersebut ditemukan arca Ganesha dan arca Bhirawa berukuran besar.

Demikian pula dengan temuan arkeologis yang di kompleks Makam Agung Panembahan Lemah Duwur, ditemukan sebuah fragmen makam berupa belalai dari batu andesit.

Dengan temuan-temuan benda kuno yang bernafaskan Siwais di makam-makam Islam di daerah Arosbaya itu, memberi petunjuk bahwa Arosbaya pernah menjadi wilayah perkembangan budaya Hindu. Penemuan benda berbau Hindu pada situs-situs Islam tersebut menandakan adanya konsinyuitas antara kesucian. Artinya, mandala Hindu dipilih untuk membangun arsitektur Islam.

Arosbaya merupakan pusat perkembangan kebudayaan Hindu di Madura Barat (Bangakalan) semakin kuat dengan adanmya temuan berupa bekas pelabuhan yang arsitekturnya bernafaskan Hindu, dan berbentuk layaknya sebuah pelabuhan Cina. (Risang Bima Wijaya)

Dari Plakaran Ke Arosbaya, Pragalba ke Pratanu (Lemah Dhuwur)

Sosok Pratanu atau lebih dikenal dengan Panembahan Lemah Duwur adalah putera Raja Pragalba. Dia dikenal sebagai pendiri kerajaan kecil, yang berpusat di Arosbaya. Masyarakat Bangakalan menokohkan Pratanu sebagai penyebar agama Islam yang pertama di Madura. Bahkan, putera Pragalba ini disebut-sebut sebagai pendiri masjid pertama di Madura. Selain itu, Pratanulah yang mengawali hubungan dengan daerah lain, yaitu Pajang dan Jawa.

Perjalanan sejarah Bangkalan tidak bisa dilepaskan dengan munculnya kekuasaan di daerah Plakaran, yang selanjutnya disebut dengan Kerajaan Plakaran. Kerajaan ini diperkirakan muncul sebelum seperempat pertama abad 16, yakni sebelum penguasa Madura barat memeluk Islam.

Plakaran diawali dengan kedatangan Kiyai Demung dari Sampang. Dia adalah anak dari Aria Pujuk dan Nyai Ageng Buda. Setelah menetap di Plakaran, Kiyai Demung dikenal dengan nama Demung Plakaran. Dia mendirikan kraton di sebelah barat Plakaran atau sebelah timur Arosbaya, yang dinamakan Kota Anyar (Pa’ Kamar 1951: 113).

Sepeninggal Demung Plakaran, kekuasaan dipegang oleh Kiai Pragalba, anaknya yang nomor lima. Pragalba mengangkat dirinya sebagai Pangeran Plakaran dari Arosbaya. Selanjutnya meluaskan daerah kekuasaannya hingga hampir seluruh Madura.

Paragalba mempunyai tiga orang istri. Pratanu adalah anak dari istri ketiganya. Semasa kekuasaan Pragalba inilah agama Islam mulai disebarkan di Madura barat, yang dilakukan oleh para ulama dari Giri dan Gresik. Penyebarannya meliputi daerah pesisir pantai sekitar selat Madura pada abad ke-15 (FA Sutjipto Tirtoatmodjo 1983 : 13)

Islam berkembang pesat sejak penyeberannya dilakukan secara teratur oleh Syech Husen dari Ampel (Hamka 1981:137). Bahkan, ia mendirikan masjid di Arosbaya. Menurut cerita masyarakat Arosbaya, reruntuhan di sekitar makam Syech Husen adalah masjid yang didirikannya.

Namun meski Islam sudah masuk di Madura barat, Pragalba belum memeluk Islam. Tetapi justru putranya Pratanu yang memeluk agama Islam. Peristiwa tersebut ditandai dengan candra sengkala yang berbunyi: Sirna Pandawa Kertaning Nagara (1450 caka 1528 M).

Peristiwa tersebut berbarengan dengan pudarnya kekuasaan Majapahit setelah dikuasai Islam tahun 1527 M. Selain itu, Kerajaan Plakaran mengakui kekuasaan Demak, sehingga diperkirakan penerimaan Islam di Madura bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Majapahit.

Menjelang wafat, Pragalba masuk Islam dengan menganggukkna kepala, karena itu dia mendapat sebutan Pangeran Onggu’ (mengangguk, Red). Sepeninggalnya, Pratanu naik tahta dengan gelar Panembahan Lemah Dhuwur. Itu terjadi pada tahun 1531-1592.

Di masa pemerintahan Lemah Dhuwur inilah pusat pemerintahan Plakaran dipindahkan ke Arosbaya. Karena itu, dia mendapat julukan sebagai pendiri Kerajaan Arosbaya. Lemahlah Dhuwur yang mendirikan kraton dan msajid pertama di Arosabaya.

Selama masa pemerintahan Panembahan Lemah Duwur, kerajaan Arosbaya telah meluaskan daerah kekuasaannya hingga ke seluruh Madura barat, termasuk Sampang dan Blega. Panembahan lemah Duwur mengawini putri Triman dari Pajang.

Ini juga menjadi bukti bahwa Lemah Duwur adalah penguasa Madura pertama yang menjalinm hubungan dengan Jawa. Berdasarkan Tutur Madura Barat, Rafless mengatakan bahwa Lemah Dhuwur adalah penguasa terpenting di daerah Jawa Timur pada masa itu.

Panembahan Lemah Dhuwur wafat di Arosbaya pada tahun 1592 M setelah kembali dari kunjungannya ke Panembahan Ronggo Sukowati di Pamekasan. Sesuai dengan tradisi dia dimakamkan di kompleks Makam Agung Lemah Dhuwur.

Selanjutnya kekuasaan Arosbaya dipegang oleh putranya yang bernama Pangeran Tengah, hasil perkawinannya dengan puteri Pajang. Pangeran Tengah berkuasa tahun 1592-1620. Di masa pemerintahan Pangeran Tengah terjadi peristiwa terkenal yang disebut dengan 6 Desember 1596 berdarah, karena saat itu telah gugur dua orang utusan dari Arosbaya yang dibunuh oleh Belanda yaitu Patih Arosbaya Kiai Ronggo dan Penghulu Arosbaya Pangeran Musarip.

Sejak peristiwa itulah Arosbaya menyatakan perang dengan Belanda. Pangeran Tengah meninggal tahun 1620. Makamnya terletak di kompleks makam Syech Husen, dan sampai sekarang dikeramatkan oleh masyarakat setempat.

Pengganti Pangeran Tengah adalah adiknya yang bernama Pangeran Mas, yang berkuasa tahun 1621-1624. Sebetulnya yang berhak berkuasa adalah putra Pangeran Tengah yang bernama Pangeran Prasena. Namun karena masih kecil, dia diwakili oleh pamannya.

Di masa pemerintahan Pangeran Mas terjadi peristiwa penyerangan Sultan Agung ke Arosbaya pada tahun 1624. Itulah yang menyebabkan jatuhnya kerajaan Arosbaya. Sedang Pangeran Mas melarikan diri ke Demak dan Pangeran Prasena dibawa oleh juru kitting ke Mataram.

Peperangan antara Mataram dan Arosbaya yang berlangsung pada hari Minggu 15 Septeber 1624 tersebut, memang patut dikenang sebagai perjuangan rakyat Madura. Saat itu Mataram harus membayar mahal, karena mereka telah kehilangan panglima perang tertingginya, Tumenggung Demak dan kehilangan 6000 prajurit.

Saat itu laki-laki dan wanita Arosbaya berjuang bersama. Ada sebuah kisah menarik di sini. Dikisahkan saat di medan perang ada beberapa prajurit lelaki yang mengeluh karena luka berat. Tetapi katika para wanita melihat luka tersebut terdapat dibagian belakang, para wanita tersebut menusuk prajurit tadi hingga tewas.

“Lukanya di bagian belakang, artinya prajurit itu telah berbalik lari, hingga dilukai di bagian punggungnya oleh musuh, mereka pengecut dalam,” demikian kata-kata para wanita Arosbaya.

Cakraningrat I Anak Angkat Sultan Agung

Prasena, putera Pangeran Tengah dari Arosbaya disertai Pangeran Sentomerto, saudara dari ibunya yang berasal dari Sampang, dibawa oleh Panembahan Juru Kitting beserta 1000 orang Sampang lainnya ke Mataram. Di Mataram Prasena diterima dengan senang hati oleh Sultan Agung, yang sekanjutnya diangkat sebagai anak.

Bahkan, kemnudian Prasena dinobatkan sebagai penguasa Madura yang bergelar Cakraningrat I. Dia dianugerahi hadiah uang sebesar 20 ribu gulden dan berhak memakai payung kebesaran berwarna emas. Sebaliknya, Cakraningrat I diwajibkan hadir di Mataram setahun sekali. Karena selain menjadi penguasa Madura, dia juga punya tugas-tugas penting di Mataram. Sementara pemerintahan di Sampang dipercayakan kepada Pangeran Santomerto.

Cakraningrat I kemudian menikah dengan adik Sultan Agung, namun hingga istrinya, meninggal dia tidak mendapat keturunan. Kemudian Cakraningrat I menikah dengan Ratu Ibu, yang masih keturunan Sunan Giri. Dari perkawinannya kali ini dia menmpunyai tiga orang anak, yaitu RA Atmojonegoro, R Undagan dan Ratu Mertoparti. Sementara dari para selirnya dia mendapatkan sembilan orang anak, salah satu di antaranya adalah Demang Melaya.

Sepeninggal Sultan Agung tahun 1645 yang kemudian diganti oleh Amangkurat I, Cakraningrat harus menghadapai pemberontakan Pangeran Alit, adik raja. Tusukan keris Setan Kober milik Pangeran Alit menyebabkan Cakraningrat I tewas seketika. Demikian pula dengan puteranya RA Atmojonegoro, begitu melihat ayahnya tewas dia segera menyerang Pangeran Alit, tapi dia bernasib sama seperti ayahnya.

Cakraningrat I diganti oleh Undagan. seperti halnya Cakraningrat I, Undagan yang bergelar Cakraningrat II ini juga lebih banyak menghabiskan waktunya di Mataram. Di masa pemerintahannya, terjadi pemberontakan putra Demang Melaya yang bernama Trunojoyo terhadap Mataram.

Pemberontakan Trunojoyo diawali dengan penculikan Cakraningrat II dan kemudian mengasingkannya ke Lodaya Kediri. Pemberontakan Trunojoyuo ini mendapat dukungan dari rakyat Madura. Karena Cakraningrat II dinilai rakyat Madura telah mengabaikan pemerintahan Madura.

Kekuatan yang dimiliki kubu Trunojoyo cukup besar dan kuat, karena dia berhasil bekerja sama dengan Pangeran Kejoran dan Kraeng Galesong dari Mataram. Bahkan, Trunojoyo mengawinkan putrinya dengan putra Kraeng Galesong, unutk mempererat hubungan.

Tahun 1674 Trunojoyo berhasil merebut kekuasaan di Madura, dia memproklamirkan diri sebagai Raja Merdeka Madura barat, dan merasa dirinya sejajar dengan penguasa Mataram. Berbagai kemenangan terus diraihnya, misalnya, kemenangannya atas pasukan Makassar (mei 1676 ) dan Oktober 1676 Trunojoyo menang atas pasukan Mataram yang dipimpin Adipati Anom.

Selanjutnya Trunojoyo memakai gelar baru yaitu Panembahan Maduretna. Tekanan-tekanan terhadap Trunojoyo dan pasukannya semakin berat sejak Mataram menandatangani perjanjian kerjasama dengan VOC, tanggal 20 maret 1677. Namun tanpa diduga Trunojoyo berhasil menyerbu ibukota Mataram, Plered. Sehingga Amangkurat harus menyingkir ke ke barat, dan meninggal sebelum dia sampai di Batavia.

Benteng Trunojoyo sedikit demi sedikit dapat dikuasai oleh VOC. Akhirnya Trunojoyo menyerah di lereng Gunung Kelud pada tanggal 27 Desember 1679. Dengan padamnya pemberonrtakan Trunojoyo. VOC kembali mengangkat Cakraningrat II sebagai penguasa di Madura, karena VOC merasa Cakraningrat telah berjasa membantu pangeran Puger saat melawan Amangkurat III, sehingga Pangeran Puger berhasil naik tahta bergelar Paku Buwono I. Kekuasaan Cakraningrat di Madura hanya terbatas pada Bangkalan, Blega dan Sampang.

Pemerintahan Madura yang mulanya ada di Sampang, oleh Cakraningrat II dipindahkan ke Tonjung Bangkalan. Dan terkenal dengan nama Panembahan Sidhing Kamal, yaitu ketika dia meninggal di Kamal tahun 1707, saat dia pulang dari Mataram ke Madura dalam usia 80 tahun. Raden Tumenggung Sosrodiningrat menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Bupati Madura barat dengan gelar Cakraningrat III.

Suatau saat terjadi perselisihan antara Cakraningrat dengan menantunya, Bupati Pamekasan yang bernama Arya Adikara. Untuk menghadapi pasukan dari Pamekasan, Cakraningrat III meminta bantuan dari pasukan Bali. Dimasa Cakraningrat inilah Madura betul-betul bergolak, terjadi banyak peperangan dan pemberontakan di Madura.

Tumenggung Surahadiningrat yang diutus Cakraningrat untuk menghadapi pasukan Pamekasan ternyata menyerang pasukan Cakraningrat sendiri dengan bantuan pasukan Sumenep. Sekalipun Cakraningrat meninggal, pergolakan di Madura masih terus terjadi.

Cakraningrat III digantikan oleh Timenggung Surahadiningrat dengan gelar Cakraningrat IV. Awal pemerintahan Cakraningrat IV diwarnai banyak kekacauan. Pasukan Bali dibawah kepemimpinan Dewa Ketut yang sebelumnya diminta datang oleh Cakaraningrat III, datang dengan membawa 1000 prajurit.

Tahu yang meminta bantuan sudah meninggal dan situasi telah berubah, pasukan Bali menyerang Tonjung. Cakraningrat yang sedang berada di Surabaya memerintahkan adiknya Arya Cakranegara untuk mengusir pasukan Bali. Tetapi Dewa Ketut berhasil membujuk Cakranegara untuk berbalik menyerang Cakraningrat IV. Tetapi dengan bantuan VOC, Cakranoingrat IV berhasil mengusir pasukan Arya Cakranegara dan Bali.

Kemudian dia memindahkan pusat pemerintahannya ke Sambilangan. Suatau peristiwa yang terkenal dengan Geger Pacina (pemberontakan masyarakat Cina) juga menjalar ke Mataram. Cakraningrat IV bekerjasama dengan VOC memerangi koalisi Mataram dan Cina ini. Namun hubungan erat antar Madura denga VOC tidak langgeng. Cakraningrat menyatakan perang dengan VOC karena VOC telah berkali-kali melanggar janji yang disepakati.

Dengan bekerja sama dengan pasukan Mengui Bali, Cakraningrat berhasil mengalahkan VOC dan menduduki Sedayu, Lamongan, Jipang dan Tuban. Cakraningrat juga berhasil mengajak Bupati Surabaya, Pamekasan dan Sumenep untuk bersekutu melawan VOC. Tapi Cakraningrat tampaknya harus menerima kekalahan, setelah VOC mengerahkan pasukan dalam jumlah besar. Cakraningrat dan dua orang putrinya berhasil melarikan diri ke Banjarmasin, namun oleh Raja Bajarmasin dia ditangkap dan diserahkan pada VOC.

Cakraningrat diasingkan ke Kaap De Goede Hoop (Tanjung Penghargaan). Dan meninggal di tempat pembuangannya, sehingga dia juga dikenal dengan nama Panembahan Sidengkap. (ris)
Sumber : http://www.lontarmadura.com

Kelahiran JOKOTOLE dan AGUS WEDI

Ketika Raja Mandaraga wafat, jenazahnya dimakam­kan di tempat itu juga (sekarang Mandaraga menjadi sebuah kampung di Desa Keles Kecamatan Ambunten Kabupaten Sumenep). Di sebelah timur laut sumber Mandaraga adalah makam Pangeran Mandaraga, yang oleh orang-orang desa itu disebut “Asta Patapan”, (makam pertapaan), karena pada zaman dahulu banyak orang yang datang bertapa di tempat yang dikera­matkan itu.

Tak banyak diceritakan mengenai kehidupan Raja Mandaraga termasuk kedua puteranya, yaitu Pangeran Bukabu dan Pangeran Baragung. Yang diceritakan hanya Pangeran Bukabu dan Pangeran Baragung meninggal dunia. Jenazah Pangeran Bukabu dimakamkan di Bukabu (sekarang Bukabu menjadi sebuah desa di Kecamatan Ambunten Kabupaten Sumenep). Sedangkan Pangeran Baragung dimakamkan di Baragung (sekarang Baragung menjadi sebuah desa di Kecamatan Guluk-Guluk Kabu­paten Sumenep). Pangeran Bukabu banyak menurunkan Para Kyai dan alim ulama di Madura umumnya dan di Sumenep pada khususnya.

Pangeran Baragung meningggalkan seorang puteri yang bernama Endhang Kilengan. Ia bersuamikan Bramakanda. Dan, dalam perkawinannya itu, mereka dikarunia seorang putera yang bernama Wagungrukyat. Setelah Wagungrukyat menginjak dewasa, ia menjadi raja di Sumenep, dengan julukan Pangeran Saccadining­rat. Keratonnya terletak di Desa Banasare (sekarang Ba­nasare termasuk Kecamatan Rubaru).

Pangeran Saccadiningrat kawin dengan saudara sepupu ibunya, yaitu Dewi Sarini. Tidak lama mereka dikaruniai seorang puteri bernama Saini, dengan julukan Raden Ayu Potre Koneng. Kulitnya mengkilat serta me­miliki wajah yang sangat cantik.

 

Setelah Raden Ayu Potre Koneng menginjak remaja, bapak ibunya menghimbau agar ia kawin. Namun, ia menolak karena tidak mengetahui sama sekali tentang masalah perkawinan. la lebih senang berbakti kepada Allah daripada kawin. Karma itu pada suatu hari, ia berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi ke goa Payudan. Ia akan bertapa di tempat tersebut. Setelah direstui oleh ibu bapaknya, lalu ia berangkat bersama tiga orang pengiringnya.

Dalam menjalani masa pertapaannya itu, Raden Ayu Potre Koneng tidak makan, tidak minum, dan tidak Pula tidur. Setelah sampai tujuh malam, ketika itu malam tanggal empat belas, ia tertidur. Dalam tidurnya itu, ia bermimpi didatangi seorang laki-laki yang roman mukanya sangat tampan. Laki-laki tersebut mengaku bernama Adipoday. Ketika itu Raden Ayu Potre Koneng terkejut, lalu bangun, “Oh, aku bermimpi,” katanya. Setelah pagi hari ia pulang ke Sumenep.

Alkisah, ada dua orang pertapa bersaudara. Mereka adalah putera-putera Panembahan Balinge yang bergelar Ario Pulangjiwo. Yang seorang bernama Adipoday, dan yang satu lagi bernama Adirasa. Adipoday bertapa di gunung Gegger, dan Adirasa di ujung gelagah.

Dari hari ke hari, bulan berganti bulan, kini perut Raden Ayu Potre Koneng semakin besar. Ia hamil. Dan kehamilannya itu, membuat bapak ibunya marah, hingga pada suatu hari ia akan dihukum mati. Bapak ibunya tidak kuat menahan rasa malu karma puteri satu-satunya hamil diluar nikah. Bapak ibunya akan merasa malu andaikata peristiwa ini didengar oleh raja-raja yang lain. Di samping itu, akan mencemarkan nama baik kerajaan clan keluarga besar keraton. Itulah pandangan kedua orang tua Raden Ayu Potre Koneng mengenai kehamilan puterinya.

Apa yang terjadi setelah Pangeran Saccadiningrat memberi putusan hukuman mati terhadap puterinya? Berbagai upaya dilakukan oleh permaisuri, para menteri dan Patih yang menaruh belas kasihan kepada Raden Ayu Potre Koneng. Mereka mengadakan perundingan, mencarikan jalan untuk memperoleh keringanan cara un­tuk melunakkan hati baginda raja. Akhirnya, baginda raja berkenan merubah keputusannya, dengan syarat supaya puterinya tidak sampai terlihat beliau.

Dengan batalnya keputusan hukuman mati itu, Raden Ayu Potre Koneng disembunyikan agar tidak terlihat ba­ginda raja.

Begitulah, ketika kandungannya berusia sembilan bulan, maka pada suatu malam bertepatan dengan tanggal empat belas, Raden Ayu Potre Koneng melahirkan se­orang bayi laki-laki. Sang puteri melahirkan tanpa mengucurkan darah setetes pun, dan tanpa mengeluarkan ari-ari pula. Sang bayi tampak elok, bersih, dan berseri­seri, mengingatkan sang puteri kepada orang yang pernah datang dalam mimpinya.

Kelahiran bayi mungil itu membuat sang puteri me rasa takut dan malu pada bapak ibunya. Ta takut disangka berbuat yang tidak baik. Karena itu, Raden Ayu Potre Koneng memanggil dayangnya.

“Mbok! Sebenarnya aku tidak tega menyingkirkan bayi ini. Tapi apes boleh buat, inilah satu-satunya cares terbaik,” kata sang puteri memelas.

“Maksud Tuan puteri?” tanyanya agak heran.

“Bawalah bayi ini ke tempest yang jauh,” perin­tahnya, tapi ingest yes, Mbok, jangan di letakkan di sarang macan. Aku khawatir dimakan.”

“Segala titah Tuan puteri akan hamba laksanakan demi keselamatan Jeng puteri,” jawab si Mbok.

Dengan belaian kasih sayang, dilepaslah bayi itu dari pangkuan ibundanya. Lalu, diserahkannya kepada Si Mbok. Bayi tersebut dibawanya menuju arah selatan. Sementara pipi sang puteri penuh dengan deraian air mates mengenang nasib puteranya tercinta.

Menjelang matahari terbit, Si Mbok tadi telah sampai ke alas gunung selatan. Bayi yang masih kemerah-merahan itu diletakkan di suatu tempest yang benar-benar terjamin keamanannya. Di bawah pohon yang rindang itulah sang bayi diletakkan, lalu ditutup dengan dedaunan. Selesai melaksanakan tugasnya, inang pengasuhnya itu pulang kembali ke keraton.

Beberapa saat kemudian, inang pengasuhnya tiba di keraton. Dan, memberikan laporannya mengenai tugas yang diberikan.

Diceritakan bahwa di daerah lain, yaitu di Desa Pakandangan (sekarang Pakandangan termasuk Kecama­tan Bluto Kabupaten Sumenep), hiduplah seorang laki­laki bernama Empo Kelleng. Dalam kegiatan sehari­harinya, is bekerja sebagai pandai besi. Membuat keris, pisau, dan perkakas pertanian.

Telah sekian tahun lamanya Empo Kelleng hidup berumah tangga, is masih belum dikarunia keturunan. Berbagai usaha yang is lakukan, tapi usahanya itu masih belum membuahkan hasil. Sampai-sampai is pergi ke dukun, tapi tidak berhasil juga.

Di samping sebagai pandai besi, Empo Kelleng juga memelihara kerbau. Tiap pagi binatang piaraannya itu diumbar ke hutan. Dan, bila senja pulang sendiri, lalu masuk ke kandangnya. Begitulah kerbau Empo Kelleng setiap harinya.

Di antara kerbau yang banyak tadi, ada seekor kerbau betina yang berbulu putih mulus serta paling bagus dibandingkan yang lain. Ketika bayi tadi dibuang ke hutan, kerbau putih itu barn selesai menyusui anaknya. Dengan kekuasaan Allah, pada saat bayi diletakkan di hutan, secara diam-diam kerbau putih tadi berlari ke tempat bayi itu, lalu menyusuinya. Di samping menyusui, kerbau putih itu menjaganya agar tidak sampai dimakan binatang buas. Begitulah pekerjaan sehari-harinya, serta setiap pulang mesti selalu teriambat.

Tingkah laku yang aneh dari kerbau putihnya itu, membuat Empo Kelleng curiga. Karena itu, is meneliti setiap kerbaunya pulang dari hutan setelah seharian men­cari makan di tempat tersebut. Sudah berapa hari aku teliti kerbau yang putih ini, pasti datangnya selalu paling akhir dan perutnya kempes. Badannya semakin kurus. barangkali kerbau yang satu ini dipekerjakan oleh orang. Besok akan kubuntuti dari jauh agar aku tahu apa yang menjadi penyebabnya, pikir Empo Kelleng dalam hatinya.

Keesokan harinya ketika matahari baru terbit, kerbau-kerbau itu dikeluarkan dari kandangnya sebagai­mana hari-hari sebelumnya. Empo Kelleng melihat kerbau putih keluar serta berjalan di barisan paling depan. Sedang­kan kerbau-kerbau lainnya ditinggalkan. Lalu Empo Kelleng membuntutinya dari jauh. Sesampainya di hutan, kerbau putih itu terus menuju ke bawah pohon tempat bayi diasingkan.

Setelah Empo Kelleng sampai di bawah pohon, is mendapati seorang bayi laki-laki yang sedang disusui kerbau miliknya. Raut wajahnya sangat tampan dan berseri-seri. Betapa gembiranya hati Empo Kelleng sebab dirinya memang sangat mendambakan ketu­runan.

Demikianlah, maka bayi tadi digendongnya dan di­bawa pulang ke rumahnya. Isterinya sangat senang, begitu suaminya menyerahkan bayi tersebut.

“Anak siapa ini, Kak?” tanya isterinya sambil mene­rima bayi, lalu dipangku dan diusap-usap dahinya.

“Bayi ini kutemukan di hutan tempat kerbau kita mencari makan, ” jawab suaminya dengan perasaan bangga.

“Kasihan ya, Kak. Lalu siapa yang menyusui?” tanyanya lagi.

“Ya, kerbau yang putih itu.” jawab Empo Kelleng.

Nyai Empo yang telah lama mendambakan keha­diran seorang anak, tanpa disangka-sangka akhirnya menggendong bayi juga. Walaupun bayi tersebut tidak dilahirkan oleh Nyai Empo, namun sikapnya bagaikan seorang ibu yang baru melahirkan. Ia minum jamu, susunya dibuat besar supaya keluar air susu.

Nyai Empo ingin sekali menyusui bayinya. Namun, usahanya itu tidak berhasil. karena itu, maka bayi tetap menyusu pada kerbau putih. Dan, memberinya nama “Jokotole”.

Sejak Empo Kelleng mempunyai anak Jokotole, siang ma’am tamu-tamu berdatangan dengan membawa oleh-oleh. Ada yang memberi uang untuk membelikan bajunya. Dan sejak saat itu pula, rezeki keluarga Empo Kelleng semakin bertambah. Dari pemberian orang­orang yang berkunjung ke rumahnya menyebabkan Empo Kelleng semakin kaya.

Lain halnya dengan Raden Ayu Koneng. Ia ber­mimpi lagi untuk yang kedua kalinya. Ia didatangi orang yang pernah datang dalam mimpinya dulu sampai tidur bersama di malam itu. Perstiwa ini terjadi di keraton Sumenep. Dan, ketika bangun, is terkejut. Sebentar duduk, kemudian tengkurap ke bantal. Dalam hatinya sangat gelisah karma peristiwa beberapa tahun yang silam takut terjadi lagi. “Kalau aku hamil lagi, pasti aku akan dihukum mati oleh orang tuaku. Mereka pasti me- nyangka bahwa aku tidak mau dinikahkan sebab mem­punyai pacar maling sakti itu,” kata Raden Ayu Potre Koneng dalam hatinya.

Pada malam itu, is menangis tersedu-sedu, meratapi nasibnya. Mendengar ada orang menangis, lalu inang pengasuhnya bangun.

“Ada apa Tuan Puteri malam-malam begini me­nangis? tanyanya terheran-heran. “Tapi dulu-dulunya bila Tuan puteri bangun tidur, iangsung mengambil air wuduk, terns bersembahyang dan membaca Al-Qur’an hingga matahari terbit.”

“Aku bermimpi lagi, Mbok,” jawab sang puteri. “Mimpi apa Tuan puteri?” tanyanya lagi.

“Laki-laki yang pernah datang dalam mimpiku dulu, kini datang lagi. Ia mengaku bernama Adipoday. Aku takut, Mbok. Yang jelas kalau ketahuan aku hamil, pasti tidak akan mendapat ampunan dari bapakku.”

“Yuan puteri jangan khawatir. Benar macan itu galak, namun sejak zaman kuno hamba belum pernah mendengar berita bahwa macan itu makan anaknya sendiri,” ujar Si Mbok menenangkan Raden Ayu Potre Koneng.

Sang puteri kembali agak tenteram jiwanya, walau­pun masih ada rasa gelisah dalam perasaannya.

Hari bertambah hari, bulan berganti bulan, perut sang puteri semakin besar. Ia hamil untuk yang kedua kalinya.

Bagaimana tanggapan bapak ibunya setelah mengetahui perut puterinya besar?

Biarpun sang puteri berusaha agar bapak ibunya tidak tahu bahwa dirinya hamil, akhirnya ketahuan juga. Pada suatu hari bapak ibunya tahu bahwa perut pu- terinya besar. Namun mereka tidak menanyakan apa­apa, sebab hal itu disangka penyakitnya yang dulu kambuh lagi.

Setelah kehamilan Raden Ayu Potre Koneng genap bulannya, pada waktu tengah malam lahirlah seorang bayi laki-laki. Rant wajahnya tidak berbeda dengan Jokotole. Ia sangat tampan dan berseri-seri.

Demikianlah, bayi yang baru lahir itu hendak di­asingkan ke hutan juga sebagaimana kakaknya dulu. Inang

pengasuhnya secara diam-diam menggendong bayi ter­.

sebut menuju arah selatan. Sampai di sebuah hutan tempat kakaknya dulu diasingkan, lalu si bayi diletakkan di bawah pohon besar yang menjadi tempat singgah dan tidurnya burung-burung.

Di bawah pohon itu sangat sepi, tidak ada bekas telapak kaki orang berjalan. Dan, sebanyak burung yang berhenti, apalagi burung yang bermalam di pohon sama­sama memaruhkan makanan ke mulut bayi tersebut se­perti memaruhkan makanan pada anaknya sendiri. Itulah yang menjadi makanan bayi sehari-harinya.

Alkisah di daerah lain ada orang yang bernama Kyai Padhemmabu. Pada waktu malam hari, is melihat cahaya kemilauan dari arah timur. Saat itu pula is mendekatinya. Semakin didekati sinar tadi, semakin terang cahayanya. Akhirnya sirna seketika. Kyai Padhemmabu cepat-cepat mendekati bekas sinar itu, lalu melihat seorang bayi laki­laki, yang tadinya merupakan seberkas sinar. Diambilnya bayi tersebut dan digendong, lalu dibawa pulang ke rumahnya.

Sesampai di rumah bayi itu diberikan kepada anak perempuannya. Anaknya sangat senang ketika mene­rimanya, karma mendapat anak tanpa hamil sendiri. Oleh karma itu, maka kehadiran bayi tersebut dianggap seperti anaknya sendiri. Bayi itu disusui sendiri, dan diberi nama “Agus Wedi” (Banyak Wedi).

Dalam asuhan Kyai Padhemmabu, bayi Agus Wedi tumbuh dan berkembang menjadi besar. Kini is telah berusia lima tahun. Dan, tiap hari tiada lain pekerjaan­nya adalah ikut menggembala sapi ke tegal-tegal.

Lain halnya dengan kakaknya, Jokotole. Ia sudah berumur lebih dari enam tahun. Bila Empo Kelleng hendak berangkat ke tempat kerjanya, Jokotole ingin ikut, namun tidak diijinkan karma is sangat nakal, takut terkena apinya. Jokotole memang sangat disenangi oleh Empo Kelleng dan isterinya.

Keinginan Jokotole untuk ikut bapaknya, akhirnya terkabul juga. Ia terpaksa ikut ke tempat bapaknya bekerja. Ketika waktu zuhur tiba, Empo Kelleng dengan Para pe­kerjanya beristirahat untuk bersembahyang. Semua per­kakas besinya disimpan.

Ketika Empo Kelleng dan Para pekerjanya ber­sembahyang, Jokotole lalu menyulut api. Sambil mem­bakar besi, dibuatlah perkakas seperti arit, beliung, linggis, dan lain-lain. Bentuknya lebih bagus daripada buatan Empo Kelleng. Sedangkan yang dipergunakan sebagai perkakas pembuatan adalah lututnya. Lutut dipergunakan sebagai alas, dan tangannya sebagai palu, jari-jari sebagai jepit dan kikir. Ada yang mengatakan bahwa cara pembuatannya hanya dipijit dengan jari­jarinya.

Begitu Empo Kelleng dan para pekerjanya selesai bersembahyang, lalu mereka melihat banyak perkakas yang sudah selesai dibuat. Mereka merasa heran melihat perkakas sebanyak itu. Namun tidak menyangka sama sekali bahwa hal itu hasil pekerjaan Jokotole.

Selanjutnya pekerjaan itu dikerjakan oleh Jokotole sampai beberapa hari, namun tak satu pun orang yang tahu.

Sumber: http://www.bangkalan-memory.net/

Sungai Dalam Laut

Maha Suci Allah yang Maha Menciptakan
Sungai dalam Laut

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) ; yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)

Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery’ pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau , ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat filem dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.

Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang masin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.



Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air masin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawapan yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.

Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor Muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan ( surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez . Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan.. .”Artinya: “Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus.” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.

Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diertikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air masin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” ertinya “Keluar dari keduanya mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak
ditemukan mutiara.

Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam
akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahawa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannyamutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.

Allahu Akbar…! Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallahu Al `Azhim.Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air.” Bila seorang bertanya, “Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?” Rasulullah s.a.w. bersabda, “Selalulah ingat mati dan membaca Al Quran.”

Jika anda seorang penyelam, maka anda harus mengunjungi Cenote Angelita , Mexico . Disana ada sebuah gua. Jika anda menyelam sampai kedalaman 30 meter, airnya air segar (tawar), namun jika anda menyelam sampai kedalaman lebih dari 60 meter, airnya menjadi air asin, lalu anda dapat melihat sebuah “sungai” di dasarnya, lengkap dengan pohon dan daun daunan.

Setengah pengkaji mengatakan, itu bukanlah sungai biasa, itu adalah lapisan hidrogen sulfida, nampak seperti sungai… luar biasa bukan? Lihatlah betapa hebatnya ciptaan Allah SWT.

Fakta-Fakta

Mungkin udah agak basi, namun informasinya masih muach.. valid. Simaklah fakta-fakta sederhana berikut ini. Mungkin bermanfaat bagi Anda.

* Warna asli Coca-Cola adalah hijau.
* Otot yang paling kuat di tubuh manusia adalah otot lidah.
* Setiap orang di Amerika rata-rata mempunyai 2 kartu kredit.
* Kata paling panjang yang bisa diketik dengan satu baris tuts di keyboards adalah “TYPEWRITER”.
* Wanita berkedip dua kali lebih banyak dari pria.
* Seseorang tidak akan pernah mati hanya dengan menahan nafasnya.
* Tidak akan pernah seseorang bisa menjilat siku tangannya sendiri.
* Seekor babi tidak akan pernah mendongak melihat langit.
* Bersin terlampau keras akan menyebabkan tulang iga retak, tetapi dengan menahan bersin akan memecahkan pembuluh darah di leher dan di otak dan kemudian menyebabkan kematian.
* 111,111,111 x 111,111,111 = 12,345,678,987, 654,321.
* Madu adalah satu-satunya makanan yang tidak akan pernah basi.
* Seekor buaya tidak akan bisa menjulurkan lidahnya keluar, walaupun membuka mulutnya setiap hari.
* Siput/keong bisa tidur selama 3 tahun secara terus-menerus.
* Semua beruang kutub ternyata kidal.
* Pada tahun 1987, American Airlines bisa mengurangi cost sebesar $40.000 hanya dengan menghilangkan bahan minyak zaitun pada menu salad di kelas 1.
* Kupu-kupu mencicipi tar bunga dengan kakinya.
* Gajah adalah satu-satunya binatang darat yang tidak bisa melompat.
* Rata-rata manusia lebih takut laba-laba daripada takut mati.
* Semut akan selalu jatuh pingsan ke arah kanan jika terbius.
* Kursi listrik ditemukan oleh dokter gigi.
* Jantung bisa memompa darah sejauh 30 kaki.
* 2 tikus bisa beranak pinak hingga 1 juta dalam 18 bulan.
* Memakai headphones walkman 1 jam bisa menghasilkan kuman di telinga sebanyak 700 kali lebih banyak.
* Zippo (catu api) ditemukan lebih dulu daripada korek api manual
* Hampir semua lipstik mengandung sisik ikan.
* Seperti sidik jari, lidah setiap manusia juga berbeda-beda.

1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321

1 x 9 + 2 = 11
12 x 9 + 3 = 111
123 x 9 + 4 = 1111
1234 x 9 + 5 = 11111
12345 x 9 + 6 = 111111
123456 x 9 + 7 = 1111111
1234567 x 9 + 8 = 11111111
12345678 x 9 + 9 = 111111111
123456789 x 9 +10= 1111111111

9 x 9 + 7 = 88
98 x 9 + 6 = 888
987 x 9 + 5 = 8888
9876 x 9 + 4 = 88888
98765 x 9 + 3 = 888888
987654 x 9 + 2 = 8888888
9876543 x 9 + 1 = 88888888
98765432 x 9 + 0 = 888888888

1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111=12345678987654321

~Tahukah Anda bahwa baik mengeong ataupun mengaum, kucing adalah binatang pemburu.

~Tahukah Anda bahwa lebah tidak memiliki telinga.

~Tahukah Anda bahwa kucing kampung dapat mendengar frekuensi suara hingga 65 kHz, sedangkan manusia hanya mampu mendengar frekuensi suara 20 kHz.

~Tahukah Anda bahwa semut dapat membawa benda seberat 10 kali lipat dari berat badannya.

~Tahukah Anda jika kemampuam indera penciuman kucing kampung 14 kali lebih kuat daripada kemampuan indera penciuman manusia.

~Tahukah Anda bahwa buaya tidak dapat menjulurkan lidahnya.

~Tahukah Anda bahwa seekor kucing yang jatuh dari lantai 20 mempunyai kemungkinan selamat lebih besar dibanding dengan yang jatuh dari lantai 7.

~Tahukah Anda bahwa seekor orang utan jantan mempunyai kekuatan 4 kali lipat pria dewasa.

~Tahukah Anda bahwa semua jenis kucing yang ada berasal dari satu nenek moyang, kucing Afrika.

~Tahukah Anda bahwa kerbau Afrika dikenal dengan suka menyerang manusia secara tiba-tiba.

~Tahukah Anda bahwa tidak semua binatang menyusui melahirkan, tetapi ada pula yang bertelur.

~Tahukah Anda bahwa kucing melangkah dengan kedua kaki kirinya dan berlari dengan menggunakan kaki kanannya.

~Tahukah Anda bahwa tidak semua ular bertelur, tetapi ada juga yang melahirkan.

~Tahukah Anda bahwa nenek moyang dari burung adalah ikan. Ini didasarkan pada sisik kaki burung yang serupa dengan sisik ikan.

~Tahukah Anda bahwa satu-satunya tempat dimana bendera kebangsaan berkibar setiap hari, tidak pernah diturunkan dan dinaikkan, tidak pernah dipasang setengah tiang, dan bahkan tidak pernah dihormati adalah di bulan.

~Tahukah Anda bahwa kata “dolar” berasal dari bahasa romawi.

~Tahukah Anda bahwa sepeda pertama terbuat dari kayu.

~Tahukah Anda bahwa dibutuhkan waktu 175 hari untuk mengelilingi bumi pertama kalinya dengan menggunakan pesawat terbang.

~Tahukah Anda bahwa kue coklat chips ditemukan pada tahun 1933.

~Tahukah Anda bahwa sebuah berlian akan pecah bila dipukul dengan sebuah godam.

~Tahukan Anda bahwa Johaan Vaaler adalah penemu penjepit kertas pertama.

~Tahukah Anda bahwa ada lebih dari 20.000 merk bir di dunia.

~Tahukah Anda bahwa memancing merupakan olahraga yang paling diminati di dunia.

~Tahukah Anda bahwa sepak bola merupakan olahraga yang memiliki jumlah penonton paling banyak.

Sumber: http://d3tektro.forumotion.com/

Arti Huruf V Pada AVA (Angel & Airwaves)

.jpg

1. Kenapa atau apa arti huruf V pada AVA ?

Nama ” ANGELS AND AIRWAVES ” lahir dari ide dan pemikiran kreatifnya Tom DeLonge. Semua band pasti ingin mempunyai suatu trademark tersendiri yang authentic dan juga unik. Begitu juga dengan Tom, sekali lagi dia ingin membuktikan bahwa dirinya memang “gudang-nya ide2 kreatif”. Tom pun sempat mengakui identitas band ANGEL AND AIRWAVES yang bila disingkat menjadi AAA itu, dinilai terlalu monoton dan kurang komersil. Akhirnya Tom memilih dan menjadikan inisial AVA sebagai trademark sekaligus logo Band yang terbentuk pada tahun 2005 itu.Karakter huruf “V” pada AVA sebenarnya mewakili karakter huruf “A” yang tidak lain diambil dari awalan kata AND. Kemudian oleh Tom karakter huruf “A” itu di-flip secara vertikal menjadi karakter huruf “V” , sehingga akhirnya kalau masing-masing inisial itu digabungkan sekaligus dibaca dari kiri ke kanan (dan juga dari kanan ke kiri!) menjadi AVA.

.jpg

Ternyata pilihan Tom untuk mengubah inisial band-nya tidak salah. Karena secara kebetulan, AVA adalah nama depan-nya putri si Tom sendiri. Putri kesayangan Tom yang kini berumur 6 tahun itu bernama lengkap Ava Elizabeth DeLonge, dan merupakan sumber inspirasi terbesar bagi seorang Tom Delonge.

Komentar lainnya:

Kenapa AVA ?
Soalnya klo AAA ntar malah saingan ama grup BBB (Bukan Bintang Biasa) ! hew hew !!

Kenapa AVA ?
Soalnya klo AAA ntar dikira jenis ukuran battery trus kalo disingkat jadi A3 ntar malah dikira jenis ukuran kertas HVS. !

Kenapa V ?
V itu adalah VICAVERSA (kebalikan) dari karakter huruf ”A”.

Kenapa V ?

V itu adalah huruf ke-22 di dalam susunan Roman Alphabet.
Kalo dijumlahin masing-masing angka 2-nya : 2+2 = 4 .
4 adalah jumlah personel dari AVA.
Jadi secara bebas, gw mengartikan AVA sebagai : Empat Orang Malaikat (Tom DeLonge, David Kennedy, Adam “Atom” Willard , Matt Wachter) yang mempunyai obsesi untuk mengubah dunia menjadi lebih baik, disampaikan dengan lirik dan musik mereka, dengan menggunakan gelombang radio dan televisi (airwaves) sebagai medianya.

Kenapa V ?

Selain VICTORY, ”V” bisa juga merepresentasikan karakteristik-karakteristik yang secara real terdapat dalam setiap lagunya AVA : VIVID (hidup/jelas), VIVACIOUS (bersemangat), VOLUPTUOUS (menggairahkan), VOGUE (digemari).

Sumber: http://krazier.blogdetik.com/

Asal Usul Nama King Kong

Kenapa King Kong digunakan untuk nama Kera atau Monyet Raksasa,

mengapa tidak mengunakan Great Ape, King Monkey, Giant Ape, Giant Monkey atau yang lainnya?

Menurut ahli bahasa kata King Kong berasal dari bahasa Inggris dan bahasa latin, yang berarti Raja Monyet,

King berarti Raja dan Kong (bahasa latin) berarti monyet.

Berikut kata yang terkait dengan Kong:

* Kong Guan artinya Biskuit Monyet (Kong artinya Monyet dan Guan artinya merk biscuit).

* Ngong Kong artinya Monyet Jongkok, (Ngong artinya duduk/jongkok (bahasa sanskerta)).

* Kong Kali Kong artinya Banyak Monyet (Monyet x Monyet = Banyak Monyet).

* Kong Res (Kongres), artinya Monyet Ngumpul (Res dari bahasa Inggris singkatan dari residu/sisa yang terkumpul).

* Kong Kow artinya Monyet Gaul (Kow dari bahasa Cina tidak formal artinya main/ bergaul/ngumpul).

* Bang Kong artinya Kaka’nya Monyet (Bang dari bahasa Betawi artinya Kaka’)

* Hong Kong artinya Aliran Monyet, (Hong dari bahasa Sunda Aliran/ Saluran)

* Eng Kong artinya Mbahnya Monyet. (Eng dari bahasa tak bermuasal artinya Mbah)


Sumber: http://d3tektro.forumotion.com/

Asal Usul Nama Indonesia

Pada zaman purba, kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah benzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. “Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi (Sumatra, Sulawesi, Sunda, semuanya Jawa)” kata seorang pedagang di Pasar Seng, Mekah.

Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia. Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah “Hindia”. Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”. Sedangkan tanah air kita memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau “Hindia Timur” (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais).

Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur). Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” (bahasa Latin insula berarti pulau). Tetapi rupanya nama Insulinde ini kurang populer. Bagi orang Bandung, Insulinde mungkin cuma dikenal sebagai nama toko buku yang pernah ada di Jalan Otista.

Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata “India”. Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.

Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa dari Gajah Mada, “Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa” (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat). Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.

Sampai hari ini istilah nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan wilayah tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi bangsa dan negara kita adalah Indonesia. Kini akan kita telusuri dari mana gerangan nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul.

Nama Indonesia

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis: … the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan: Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago. Ketika mengusulkan nama “Indonesia” agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!

Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah “Indonesia” itu dari tulisan-tulisan Logan.

Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.

Makna politis

Pada dasawarsa 1920-an, nama “Indonesia” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama “Indonesia” akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan! Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.

Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.”

Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama “Indonesia”. Akhirnya nama “Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama “Nederlandsch-Indie”. Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah.

Maka kehendak Allah pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama “Hindia Belanda” untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia.


Sumber: http://d3tektro.forumotion.com/